Ekraf Dorong Kolaborasi Global Lewat Forum B57+ Asia Pasifik

Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Teuku Riefky Harsya bersama denngan Menteri Agama Republik Indonesia saat ini (per April 2026) adalah Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA//Foto: Dokumen Biro Komunikasi Kementerian Ekraf/ Badan Ekraf.

SALINDIA.ID – Jakarta, Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, mendorong penguatan kolaborasi global melalui forum B57+ (Business 57 Plus) Asia Pacific Chapter guna memperluas akses pasar pelaku ekonomi kreatif Indonesia.

Hal tersebut disampaikan saat menghadiri acara Halal Bihalal B57+ Asia Pacific Chapter di Masjid Istiqlal, Jakarta, Rabu (22/4/2026). Menurutnya, kolaborasi lintas sektor menjadi kunci dalam mendorong produk kreatif nasional mampu bersaing di pasar internasional.

“Kaitannya nanti bagaimana kita berkolaborasi dengan B57+ Indonesia termasuk bisa mulai dari akses pendanaan, akses pasar, fasilitasi untuk akses pasar, fasilitasi untuk akses meningkatkan talenta. Kami mengharapkan dengan berkolaborasi bersama B57+ membantu mendukung brand Indonesia untuk go global,” ujar Menteri Ekraf.

Ia menjelaskan, forum B57+ merupakan inisiatif kolaboratif di bawah naungan Islamic Chamber of Commerce and Development (ICCD) yang berfokus pada penguatan jejaring pelaku usaha dan pemangku kepentingan di negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), khususnya dalam sektor perdagangan, investasi, dan ekonomi berbasis halal.

Selain itu, Menteri Ekraf menekankan pentingnya penguatan local hero, local brand, serta kekayaan intelektual dari daerah sebagai fondasi untuk melahirkan national champion yang mampu bersaing di tingkat global.

Pada kesempatan yang sama, Menteri Agama Nasaruddin Umar menyampaikan bahwa momentum halal bihalal memiliki makna strategis dalam memperkuat persaudaraan ekonomi umat di tingkat global.

“Indonesia tetap kokoh di posisi ketiga besar dunia dan mungkin dalam waktu tidak lama akan naik ke puncak. Hal ini membuktikan bahwa nilai-nilai spiritualitas yang kita jaga berkorelasi positif dengan kredibilitas ekonomi kita. Menurut data proyeksi 2026, ekonomi halal global diperkirakan bernilai lebih dari USD 3 triliun. Kita tidak bisa lagi melihat ekonomi halal hanya dari perspektif ibadah. Ini adalah industri raksasa. semoga bisa menjadikan Indonesia sebagai jajar ekonomi syariah di kawasan Asia Pasifik bahkan di dalam dunia internasional,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Umum B57+ Asia Pacific Chapter, Arsjad Rasjid, menyoroti pentingnya kolaborasi dalam menghadapi dinamika global yang semakin kompleks, terutama dalam memanfaatkan peluang ekonomi halal yang terus berkembang.

“B57+ misinya sederhana, tapi penuh ambisi. Menerjemahkan kekuatan bersama menjadi kemakmuran bersama. Hal ini dicapai melalui perdagangan, investasi, konektivitas bisnis yang konkret. Dan melalui B57+ Indonesia mengambil peran sebagai jembatan, jembatan of leadership atau kepemimpinan kerja sama ekonomi halal di kawasan Asia Pasifik,” ujarnya.

Melalui forum ini, Kementerian Ekraf berharap kolaborasi internasional semakin terbuka, sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain utama dalam pengembangan ekonomi kreatif berbasis halal di tingkat global.

Turut hadir mendampingi Menteri Ekraf, Direktur Pengembangan Akses Pendanaan, Pembiayaan, dan Investasi, Anggara Hayun Anujuprana.

Share :

Add New Playlist