SALINDIA.ID – Jakarta, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie, menegaskan bahwa pengembangan kecerdasan buatan (AI) di Indonesia harus dilandasi nilai etika. Hal ini disampaikannya dalam forum bertajuk “AI Governance for the Greater Good: Balancing Innovation and Ethics” yang digelar oleh Center for Strategic and International Studies (CSIS) Indonesia, Rabu (22/4/2025).
Dalam paparannya, Stella menekankan bahwa kemampuan berpikir abstrak manusia merupakan keunggulan utama yang tidak boleh hilang di tengah perkembangan AI yang semakin pesat.
“Kemampuan kita untuk membuat abstraksi dan memahami konsep dari sedikit data adalah sesuatu yang tidak boleh hilang. Ini harus dijaga dalam pendidikan dan kehidupan sehari-hari, karena ini adalah keunggulan kita dibandingkan AI,” tegas Wamen Stella.
Stella menjelaskan bahwa sistem pendidikan memiliki peran penting dalam menjaga dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis serta konseptual, bukan hanya keterampilan teknis semata.
Ia juga menyoroti bahwa kemajuan teknologi, termasuk AI, lahir dari pemikiran kritis dan riset fundamental. Menurutnya, pertanyaan mendasar seperti “bisakah mesin berpikir?” menjadi titik awal lahirnya inovasi besar di bidang kecerdasan buatan.
“Oleh karena itu, penting bagi kita untuk terus belajar berpikir dan berkontribusi pada pengetahuan baru demi kemanusiaan. Ini adalah tugas utama pendidikan tinggi,” jelasnya.
Stella turut mengakui bahwa penggunaan AI saat ini masih menimbulkan pro dan kontra di masyarakat. Ia menyebut AI memiliki dua sisi, yakni potensi manfaat besar sekaligus risiko yang perlu diantisipasi.
AI dapat menjadi alat untuk pemerataan akses, khususnya di bidang pendidikan, serta membantu verifikasi informasi. Namun, di sisi lain, teknologi ini juga berpotensi menimbulkan ancaman keamanan siber dan menghasilkan informasi yang tidak akurat.
Karena itu, Stella menekankan pentingnya kebijakan yang proaktif agar manfaat AI dapat dioptimalkan, sementara risiko yang muncul dapat diminimalisir.
Di akhir paparannya, ia menegaskan bahwa pengembangan AI di Indonesia harus diarahkan untuk menjawab berbagai tantangan nasional. AI diposisikan sebagai alat strategis untuk menyelesaikan persoalan kompleks berbasis data, sekaligus mendorong percepatan pembangunan.