Indonesia Kecam Serangan ke Pasukan UNIFIL, Satu Tentara Prancis Tewas

Sejumlah personel TNI AL dari Satuan Tugas Maritime Task Force (MTF) TNI Kontingen Garuda XXVIII-P/UNIFIL melempar baret mereka ke atas usai turun dari KRI Sultan Iskandar Muda-367 setibanya di Koarmada II, Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (7/2/2026). Kapal perang Korvet kelas Sigma di bawah komando Letkol Laut (P) Anugerah Annurullah selaku Dansatgas MTF TNI Konga XXVIII-P/UNIFIL yang membawa 120 personel TNI AL itu telah kembali ke Surabaya setelah melaksanakan misi perdamaian PBB di Lebanon. ANTARA FOTO/Didik Suhartono/bar

SALINDIA.ID – Jakarta, Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia menyampaikan belasungkawa mendalam kepada Prancis atas gugurnya seorang anggota Pasukan Penjaga Perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations Interim Force in Lebanon) dalam serangan di Lebanon Selatan, Sabtu (18/4/2026).

Indonesia mengecam keras insiden tersebut, terlebih karena terjadi di tengah kesepakatan gencatan senjata yang sedang berlangsung. Pemerintah menilai serangan terhadap personel penjaga perdamaian dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang.

Kemlu RI menegaskan bahwa tindakan kekerasan di tengah proses diplomasi tidak dapat diterima dalam kondisi apa pun.

“Seluruh pihak harus menahan diri, menghormati kedaulatan negara, dan menjunjung tinggi hukum internasional, termasuk hukum humaniter internasional,” tulis Kemlu RI melalui akun resminya di platform X, Minggu (19/4/2026).

Selain itu, pemerintah Indonesia juga menyoroti pentingnya kepatuhan terhadap kesepakatan gencatan senjata. Pelanggaran terhadap kesepakatan tersebut dinilai dapat memperburuk situasi keamanan dan menghambat upaya perdamaian.

“Indonesia terus menyampaikan kekhawatirannya terhadap serangan berulang terhadap UNIFIL. Pasukan penjaga perdamaian tidak boleh menjadi sasaran; aksi tersebut dapat dianggap sebagai kejahatan perang,” tegas pernyataan tersebut.

Sebagai salah satu negara kontributor pasukan perdamaian terbesar, Indonesia menyatakan solidaritas penuh kepada Prancis serta negara-negara pengirim pasukan lainnya. Komitmen ini sejalan dengan kesepakatan internasional terkait keselamatan dan keamanan personel PBB.

Sebelumnya, Presiden Prancis Emmanuel Macron mengonfirmasi bahwa satu prajurit tewas dan tiga lainnya mengalami luka-luka akibat serangan tersebut.

Situasi keamanan di Lebanon Selatan saat ini dinilai semakin memprihatinkan bagi personel PBB. Indonesia sendiri sebelumnya mencatat gugurnya tiga prajurit TNI yang tergabung dalam UNIFIL pada 29 dan 30 Maret 2026, serta delapan personel lainnya mengalami luka-luka saat menjalankan misi perdamaian.

Hingga kini, Indonesia terus mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk mengusut tuntas setiap serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian guna menjamin keselamatan seluruh personel yang bertugas di wilayah konflik.

Share :

Add New Playlist