Kekerasan di Palestina Harus Segera Diakhiri

Menlu RI Retno Marsudi (tengah), Menlu Arab Saudi Faisal bin Farhan Al-Saud (kiri), dan Sekretaris Jenderal ASEAN Kao Kim Hourn (kanan) usai penandatanganan aksesi Traktat Persahabatan dan Kerja Sama (Treaty of Amity and Cooperation/TAC), dalam rangkaian Pertemuan Menlu ASEAN (AMM) ke-56 di Jakarta, Rabu (12/7/2023). Foto: InfoPublik/Agus Siswanto

SALINDIA.ID – Jakarta, Indonesia menyerukan pengakhiran siklus kekerasan, pelindungan warga sipil, dan pencegahan bencana kemanusiaan yang lebih parah  adalah prioritas yang mendesak di Jalur Gaza, Palestina.

Hal itu disampaikan Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi, usai pembicaraan melalui sambungan telepon dengan Menteri Luar Negeri Arab Saudi Faisal bin Farhan Al Saud, Menlu Uni Emirat Arab Abdullah Bin Zayed Al Nahyan, Menlu Mesir Sameh Shoukry dan Menlu Palestina Riyad Al-Maliki.

“Saya berbicara dengan Menlu Arab Saudi, UEA, Mesir dan Palestina mengenai situasi yang mengkhawatirkan di Gaza,” kata Marsudi pada platform X (Twitter), Sabtu (14/10/2023).

Selain itu, Marsudi membahas masalah Palestina dalam pertemuan bilateral di Jakarta dengan Menlu Brazil Mauro Vieira yang juga menjabat sebagai Presiden Dewan Keamanan PBB pada Oktober.

Seperti dilansir sejumlah sumber, Hamas-gerakan Islam dan nasionalisme Palestina yang menentang pendudukan Zionis- telahmeluncurkan ribuan roket dari Jalur Gaza ke Israel dan melakukan serangan langsung ke beberapa lokasi di Israel , pada Sabtu (7/10/2023).

Hamas mengklaim serangan dengan nama Operasi Badai Al Aqsa itu untuk mengakhiri pendudukan terakhir di bumi.

Serangan itu juga disebut balasan atas tindakan provokatif Israel terhadap situs suci Islam yakni Masjid Al Aqsa di Kota Tua Yerusalem (Al Quds), dan terhadap warga Palestina yang ditahan.

Sementara itu, Pasukan Israel tak tinggal diam dan membalas serangan Hamas dengan melancarkan Operasi Pedang Besi. Operasi ini menargetkan infrastruktur Hamas di Jalur Gaza.

Aksi saling serang ini pun menewaskan ribuan orang dari kedua belah pihak.

Sementara itu, korban tewas akibat serangan udara Israel terhadap Jalur Gaza bertambah menjadi sedikitnya 1.900 orang pada Jumat (13/10/2023). Lebih dari 7.000 orang lainnya mengalami luka-luka akibat gempuran yang dimulai sejak sepekan lalu.

Kementerian Kesehatan Palestina dalam laporan terbaru pada Jumat (13/10) waktu setempat melaporkan peningkatan jumlah korban tewas akibat serangan udara Israel di wilayah tersebut.

Di antara 1.900 orang yang tewas, sebut Kementerian Kesehatan Palestina, sejumlah 614 orang di antaranya merupakan anak-anak dan sebanyak 370 orang di antaranya berjenis kelamin perempuan.

Sementara itu, militer Israel melaporkan bahwa warganya yang tewas mencapai  1.300 orang  dan 3.418 lainnya terluka imbas perang.

Gaza adalah wilayah Palestina yang pernah menjadi bagian dari Kekaisaran Ottoman, sebelum diduduki oleh Inggris dari 1918 hingga 1948, dan Mesir dari tahun 1948 hingga 1967.

Hampir 20 tahun setelah Israel mendeklarasikan status kenegaraannya pada 1948, nagara zionis itu telah menduduki sisa wilayah bersejarah Palestina, termasuk Jalur Gaza, Tepi Barat, Yerusalem Timur, Dataran Tinggi Golan Suriah, dan Semenanjung Sinai Mesir selama Perang Enam Hari pada 1967 melawan koalisi tentara Arab.

Sumber Berita : InfoPublik.Id

Share :

Add New Playlist